RSS

Doktrin Estrada

18 Apr

Estrada, Menteri Luar NegeriMexico, tanggal 27 September 1930 menyatakan bahwa penolakan pengakuan adalah cara yang tidak baik karena bukan saja bertentangan dengan kedaulatan suatu negara etapi juga merupakan campur tangan terhadap persoalan dalam negeri negara lain. Penolakan tersebut juga didasarkan teori bahwa diplomatic representation is to the state and not to the government. Bahkan kelihatannya teori ini sesuai dengan perkembangan zaman. Pada umumnya dewasa ini negara-negara membiarkan saja perwakilan diplomatiknya di suatu negara walaupun terjadi pergantian pemerintahan secara non-konstitusional.

Tanggal 10 Oktober 1977 Department of State Amerika Serikat dalam suatu buletin antara lain mengungkapkan: in recent years United States practice has been to de-emphasize and avoid to use of recognition in cases of changes of governments and to concern ourselves instead with the question whether we wish to have diplomatic relations with the new government.[1] Demikian juga Inggris melalui Menteri Luar Negerinya pada tanggal 28 April 1980 mengumumkan pula bahwa seperti banyak negara lainnya, Inggris memutuskan untuk tidak memberikan pengakuan terhadap pemerintah.[2] Kebijaksanaan untuk tidak meengakui peemerintah ini juga diikuti antara lain oleh Perancis dan Spanyol. Kebijaksanaan untuk tidak mengakui ini pada dasarnya bermaksud untuk menghindarkan interpretasi yang salah karena di masa lampau pengakuan sering diartikan sebagai persetujuan terhadap suatu pemerintah, sedangkan bagi banyak negara buka demikian yang dimaksud.

Negara-negara berkembang pada umumnya juga tidak mau mencapuri perubahan-perubahan rejim ataupun pemerintahan yang terjadi di negara-negara lain, apakah perubahan tersebut melalui prosedur konstitusional atau tidak. Betapa banyaknya terjadi perubahan pemerintah yang tidak melalui cara konstitusional di Afrika dan Amerika Latin namun negara-negara tidak menarik pengakuannya dan tidak menutup perwakilan diplomatiknya di negara tersebut.

Pada waktu terjadinya perubahan rejim di Kabul, Afganistan, di akhir tahun 1979 sebagai akibat intervensi militer Uni Soviet, Indonesia tidak menarik pengakuannya tetapi hanya menarik pulang Duta Besarnya dan menyerahkan KBRI dipimpin oleh seorang Charge d’affaires sebagai wujud ketidaksenangannya terhadap rejim baru tersebut. Demikian juga pada tahun 1992, Indonesia menurunkan tingkat kepala perwakilannya di Yugoslavia menjadi Kuasa Usaha sebagai protes atas tindakan ethnic cleansing yang dilakukan negara tersebut. Bahkan Amerika Serikat walaupun sangat mencela pemerintahan Daniel Ortega yang berhalauan radikal kiri selama berkuasa di tahun 1980-an juga tidak menyebut-nyebut soal pengakuan dan tetap membiarkan perwakilan diplomatiknya di negara tersebut. Namun ada juga negara-negara tertentu yang masih tetap mengumumkan pengakuannya terhadap suatu pemerintah untuk menunjukkan dukungannya atau dengan harapan untuk memperoleh imbalan.[3]

Selanjutnya perubahan pemerintahan non-konstitusional di suatu negara tidak mempunyai dampak langsung terhadap keanggotaannya dalam organisasi internasional. Untuk itu berlakulah prinsip kontinuitas negara. Pemerintah dapat silih berganti namun keanggotaan negaranya tidak mengalami perubahan. Masalahnya baru timbul bila terdapat dua pemerintahan dari suatu negara. Atau adanya pemerintahan tandingan dalam suatu negara. Dalam hal ini timbul masalah pengisian kursi dalam organisasi-organisasi internasional. Sebagai contoh, Kamboja dari 1979 sampai tahun 1992 kursinya terpaksa dikosongkan di PBB karena adanya faks-faksi yang bertikai di dalam negeri. Kasus lain adalah Pemerintah Cina Nasionalis pada tahun 1971 akhirnya diganti oleh Pemerintah Republik Rakyat Cina melalui resolusi Majelis Umum PBB. Sehubungan dengan ini hukum internasional memerlukan hanya satu pemerintah yang jelas untuk dapat mengadakan hubungan denga negara yag bersangkutan.


[1] Yohn A. Boyd, Digest of United States Practice in International Law, 1977, p. 19.

[2] Michael Akehurst, op.cit, p.59

[3] Charles Rousseau, op.cit. p. 555-557.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 April 2011 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: