RSS

konferensi WTO tahun 2005

21 Jun

konferensi tingkat menteri, hongkong, 2005

salah satu keputusan penting yang mnasuk dalam deklarasi hongkong adalah isu menyangkut bantuan untuk perdagangan serta penetapan batas waktu untuk negosiasi untuk bebrapa isu antara lain isu menyangkut modalitas pertanian, NAMA serta draft untuk skedul jasa dan revisi atau penawaran yang harus diselesaikan masing-masing tinggal 30 april 2006 dan 31 juli 2006. jadwal negosiasi dalam KTM hongkong yang seharusnya diselesaikan di bulan januari 2005 mengalami kemunduran.

sepanjang tahun 2006 dilakukan perundingan secara intensif yang mengamanatkan penyelesaian modalitas di bidang pertanian dan non pertanian paling lambat tanggal 30 april 2006 sampai dengan pertengahan bulan juni 2006, pembahasan modalitas belum mengalami kemajuan sehingga kembali dilakukan perundingan informal 30 menteri perdagangan di jenewa. pertemuan di jenewa menemui jalan buntu sehingga pada akhirnya para menteri negara tersebut memberi mandat pada dirjen WTO untuk melakukan konsultasi secara intensif dengan negara anggota selama bulan juni 2006.

salah satu konsultasi yang dilakukan oleh dirjen WTO antara lain adalah kelompok G-8 (inggris, perancis, jerman, amerika serikat, italia, kanada, jepang dan komisi eropa) yang diselenggarakan pada bulan juni 2006. para negosiator pertemuan itu menghadapi apa yang disebut triangles problems yang belum terpecahkan sejak 4 tahun yang lalu, yaitu mendorong eropa untuk menurunkan tarif pertanian, amerika menurunkan subsidi pertanian, sementara brazil dan italia untuk membuka lebih luas pasar mereka terhadap barang-barang industri barat.

pascal lamy, direktur jenderal WTO menawarkan suatu usulan kompromi dengan rumusan 20/20/20 yaitu amerika memotong batas atas (ceiling) subsidi menjadi diawah usd 20 milyar, eropa setuju dengan usulan g-20 atas tarif pertanian; dan negara berkembang setuju membatasi tarif industri pada 20% namun demikian perundingan tersebut tidak memperoleh kesepakatan selain mengharapkan agar kelompok g-6 (amerika serikat, australia, uni eropa, brazil, india dan jepang) segera melakukan perundingan lebih lanjut. pertemuan lenjutan dengan negara g-6 juga tidak menghasilkan kesepakatan yang masih disebabkan perbedaan kepentingan yang terlalu besar. kebutuhan tersebut menyebabkan pascal lamy, direktur jenderal WTO merekomendasikan penundaan sementara perundingan doha.

negosiasi dda mendesak untuk segera disepakati terutama mengingat akan berakhirnya kebijakan “fast track” perdagangan amerika serikat berdasarkan trade act 2002 pada tanggal 1 juni 2007. tantangan utama agar negosiasi dda berhasil adalah membangun kembali hubungan amerika serikat dengan uni eropa yang apabila tercapai, diharapkan akan mempengaruhi brazil, india, cina dan sejumlah negara berkembang utama lainnya. dalam kaitan ini, dalam pertemuan tingkat menteri g-20 yang berlangsung di rio janeiro, brazil pada tanggal 9-10 september 2006, yang juga dihadiri kelompok-kelompok negara berkembang lainnya seperti kelompok g-33: african group, caribean and the pasific (ACP), LDCs, small and vulnerable economies (SVEs), cotton-4 dan NAMA 11, berhasil memperkuat persatuan, koordinasi, solidaritas di antara berbagai kelompok negara berkembang dan antara lain menyerukan agar perundingan dda yang tertunda dapat dimulai secepatnya serta mendesak negara maju untuk menunjukkan komitmen kuat dan memberikan kontribusi nyata bagi penyelesaian perundingan dda.

Kompetisi Website Kompas Muda – KFC disini

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Juni 2009 in Tak Berkategori

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: