RSS

sejarah perkembangan diplomatik 1

28 Apr

Pesatnya perkembangan teknologi KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) dewasa ini, telah memacu semakin intensifnya interaksi antar Negara dan antar bangsa di dunia. Meningkatnya intensitas interaksi tersebut telah memengaruhi potensi kegiatan ekonoi, politik, sosial dan budaya kita dengan pihak luar, baik itu dilakukan oleh pemerintah (pusat dan daerah), organisasi nonpemerintah (ornop dalam negeri dan NGO’s luar negeri), swasta (perusahaan-perusahaan multinasional), dan perorangan sebagai aktor baru dalam hubungan luar negeri.

Kenyataan ini menuntut tersedianya suatu perangkat ketentuan untuk mengatur interaksi tersebut selain ditujukan untuk melindungi kepentingan negara dan warganegaranya, serta pada gilirannya memperkokokoh negara kesatuan republik indonesia.

Sejarah telah mencatat dan membuktikan bahwa jauh sebelum bangsa-bangsa di dunia mengenal dan menjalankan praktik hubungan diplomatik, misi diplomatik secara tetap seperti yang ada dewasa in, di zaman india kuno telah dikenal ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan antarraja maupun kerajaan, dimana hukum bangsa-bangsa pada waktu itu telah mengenal pula apa yang dinamakan duta.

Pengiriman duta-duta ke luar negeri sudah dikenal dan dipraktikkan oleh indonesia, dan negara-negara asia serta arab sebelum negara-negara barat mengenalnya. Di benua eropa, baru pada abad ke-16 masalah pengiriman duta-duta itu diatur menurut hukum kebiasaan, tetapi hukum kebiasaan internasional menyangkut masalah itu menjadi jelas pada abad ke-19, dimana pengaturan hubungan diplomatik dan perwakilan diplomatik mulai dibicarakan pada kongres wina 1815, yang diubah dan disempurnakan oleh protocol aix-la-chapelle 1818.

kongres wina tersebut pada hakikatnya merupakan tonggak sejarah diplomasi modern karena telah berhasil mengatur dan membuat prinsip-prinsip secara sistematis, termasuk klasifikasi jabatan kepala perwakilan diplomatik dan mengatur prosedur dan mekanisme hubungan diplomatik. Dengan demikian, sampai dengan 1815 ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan hubungan diplomatik sebagian besar bersumber dari hukum kebiasaan.

Pada ongres wina 1815, raja-raja yang ikut dalam konferensi itu sepakat untuk mengodigikasikan hukum kebiasaan tersebut menjadi hukum tertulis. Namun, tidak banyak yang telah dicapai, dan mereka hanya meninggalkan satu naskah, yaitu hirearki diplomat (klasifikasi jabatan kepala perwakilan diplomatik) yang kemudian dilengkapi pula dengan protoco aix-la-chapelle tanggal 21 november 1818.

sebenarnya kongres wina ini dilihat dari segi substansi, praktis tidak menambah apa-apa terhadap praktik yang sudah ada sebelumnya, yang jelas hanya sebagai upaya positif mengodifikasikan praktik-praktik negara-negara dalam bidang hubungan diplomatik itu menjadi hukum tertulis, sehingga lebih terjamin kepastiannya.

Pada tahun 1927, dalam kerangka liga bangsa-bangsa, diupayakan kembali kodifikasi yang sesungguhnya. Namun, hasil-hasil yang dicapai komisi ahli ditolak oleh dewan LBB. Alasannya yaitu, belum waktunya untuk memutuskan tidak memasukkan masalah tersebut dalam agenda konferensi den haag yang diselenggarakan pada tahun 1930 untuk kodifikasi hukum internasional.

Disamping itu, di havana pada 1928 konferensi ke-6 organisasi negara-negara amerika (OAS) menerima konvensi dengan nama convention on diplomatic officers. Konvensi ini diratifikasi oleh dua belas negara amerika, kecuali amerika serikat yang hanya menandatangani, tidak meratifikasi karena menolak ketentuan-ketentuan yang menyetujui pemberian suara politik. Mengingat sifatnya yang regional, implementasi konvensi ini tidak menyeluruh.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2009 in Tak Berkategori

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: