RSS

Dalam hal tertentu negara negara barat menggunakan…

“Dalam hal tertentu, negara-negara barat menggunakan hukum internasional untuk memelihara status quo dan mempertahankan kolonialisme. Hukum internasional pada waktu itu tidak banyak membantu pelaksanaan hak untuk menentukan nasib sendiri.” (Boer Mauna, Hukum Internasional, Hlm. 14)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Juli 2011 in status

 

KTT ASEAN dan Deklarasi yang dihasilkan

  1. ASEAN Summit Pertama diselenggarakan di Bali Indonesia, pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 23-24 Febuari 1976 dan menghasilkan sebuah Deklarasi Kerukunan ASEAN; Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (TAC); serta Persetujuan Pembentukan Sekretariat ASEAN.
  2. ASEAN Summit Kedua diselenggarakan di Kuala Lumpur Malaysia, pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 4-5 Agustus 1977 dan menghasilkan Pencetusan Bali Concord 1.
  3. ASEAN Summit Ketiga diselenggarakan di Manila Filipina, pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 14‒15 Desember 1987 dan menghasilkan pengesahan kembali prinsip-prinsip dasar ASEAN; Solidaritas kerjasama ASEAN dalam segala bidang; pelibatan secara aktif masyarakat di negara-negara anggota ASEAN dengan memperbesar peranan swasta dalam kerjasama ASEAN; Usaha bersama dalam menjaga keamanan stabilitas dan pertumbuhan kawasan ASEAN.
  4. ASEAN Summit Keempat diselenggarakan di Singapura, pertemuan ini dilaksanaan pada tanggal 27‒29 Januari 1992 dan menghasilkan pembentukan Dewan ASEAN Free Trade Area (AFTA); Memberikan penilaian terhadap pelaksanaan Skema Tarif Preferensi Efektif Bersama (Common Effective Preferential Tariff/CEPT) menuju Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN.
  5. ASEAN SUmmit Kelima diselenggarakan di Bangkok Thailand, pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 14‒15 Desember 1995 dan menghasilkan pembicaraan terkait upaya memasukan Kamboja, Laos, Vietnam menjadi anggota serta memperkuat identitas ASEAN.
  6. ASEAN Summit Keenam diselenggarakan di Hanoi Vietnam, pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 15‒16 Desember 1998 dan menghasilkan penetapanStatement of Bold Measures yang juga berisikan komitmen mereka terhadap AFTA dan kesepakatan untuk mempercepat pemberlakuan AFTA dari tahun 2003 menjadi tahun 2002 bagi enam negara penandatangan skema CEPT, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.
  7. ASEAN Summit Ketujuh diselenggarakan di Bandar Seri Begawan Brunei Darussalam, pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 5‒6 November 2001 dan menghasilkan deklarasi HIV/AIDS; deklarasi Terorisme, karena menyangkut serangan terorisme pada gedung WTC di Amerika.
  8. ASEAN Summit Kedelapan diselenggarakan di Pnomh Penh Kamboja, pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 4‒5 November 2002 dan menghasilkan Pengeluaran deklarasi Terorisme, bagaimana cara-cara pencegahan; Pengesahan ASEAN Tourism Agreement.
  9. ASEAN Summit Kesembilan diselenggarakan di Bali Indonesia, pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 7‒8 Oktober 2003 dan menghasilkan Pencetusan Bali Concord II yang akan dideklarasikan itu berisi tiga konsep komunitas ASEAN yang terdiri dari tiga pilar, yaitu Komunitas Keamanan ASEAN (ASC), Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) dan Komunitas Sosial Budaya ASEAN (ASSC).
  10. ASEAN Summit Kesepuluh diselenggarakan di Vientiane Laos, pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 29‒30 November 2004 dan menghasilkan Program Aksi Vientiane (Vientiane Action Program) yang diluluskan dalam konferensi tersebut menekankan perlunya mempersempit kesenjangan perkembangan antara 10 negara anggota ASEAN, memperluas hubungan kerja sama dengan para mitra untuk membangun sebuah masyarakat ASEAN yang terbuka terhadap dunia luar dan penuh vitalitas pada tahun 2020.
  11. ASEAN Summit Kesebelas diselenggarakan di Kuala Lumpur Malaysia, pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 12‒14 Desember 2005 dan menghasilkan Perjanjian perdagangan jasa demi kerja sama ekonomi yang komprehensif dengan Korea Selatan, memorandum of understanding (MoU) pendirian ASEAN-Korea Center, dan dokumen hasil KTT Asia Timur yang diberi label Deklarasi Singapura atas Perubahan Iklim, Energi, dan Lingkungan Hidup.
  12. ASEAN Summit Keduabelas diselenggarakan di Cebu FIlipina, pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 11‒14 Januari 2007 dan menghasilkan Pembahasan masalah-masalah mengenai keamanan kawasan, perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), keamanan energi Asia Tenggara, pencegahan dan pengendalian penyakit AIDS serta masalah nuklir Semenanjung Korea.
  13. ASEAN Summit Ketigabelas diselenggarakan di Singapura, pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 18‒22 November 2007 dan menghasilkan Penandatanganan beberapa kesepakatan, antara lain seperti perjanjian perdagangan dalam kerangka kerjasama ekonomi dan penandatangan kerjasama ASEAN dengan Korea Center, menyepakati ASEAN Center.
  14. ASEAN Summit Keempatbelas diselenggarakan di Cha Am Hua Hin Thailand, pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 27 Februari-1 Maret 2009 dan menghasilkan Penandatanganan persetujuan pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-Australia-Selandia Baru
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Juli 2011 in Tak Berkategori

 

‎ Ketentuan ketentuan hukum internasional banyak dibuat di…

‎”Ketentuan-ketentuan hukum internasional banyak dibuat di zaman kolonial, karenanya ketentuan-ketentuan hukum yang dibuat pada waktu itu hanya untuk kepentingan kaum penjajah. Bahkan akibatnya masih dirasakan sampai zaman sesudah kemerdekaan.” (Boer Mauna, Hukum Internasional, Hlm. 14)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juli 2011 in status

 

‎ Jumlah wakil wakil dari Asia dan Afrika…

‎”Jumlah wakil-wakil dari Asia dan Afrika dalam berbagai badan hukum PBB seperti Biro-biro Hukum berbagai organisasi internasional, sampai akhir-akhir ini sangat sedikit. Sehingga menyebabkan mereka tidak terwakili secara memadai dalam badan-badan tersebut dan tidak dapat berpartisipasi dalam menciptakan norma hukum internasional.” (Boer Mauna, Hukum Internasional, Hlm. 15)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juli 2011 in status

 

“JG Starke menguraikan bahwa sumber sumber materiil yang…

“JG Starke menguraikan bahwa sumber-sumber materiil yang dapat dijadikan sebagai sumber dalam hukum internasional meliputi; (1) Hukum kebiasaan internasional, (2) Traktat, (3) Keputusan pengadilan atau badan-badan arbritasi, (4) Karya-karya Hukum, (5) Keputusan atau ketetapan organ-organ/lembaga internasional.” (Boer Mauna, Hukum Internasional, Hlm. 8)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juli 2011 in status

 

‎ Dalam memutuskan suatu perkara Mahkamah Internasional diperbolehkan…

‎”Dalam memutuskan suatu perkara, Mahkamah Internasional diperbolehkan untuk menggunakan dasar ex aequo et bono, yaitu keputusan bukan atas pelaksanaan hukum positif tetapi atas dasar prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran.” (Boer Mauna, Hukum Internasional, Hlm. 11)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juli 2011 in status

 

‎ Faktor penyebab perkembangan hukum internasional antara lain…

‎”Faktor penyebab perkembangan hukum internasional antara lain: (1) Banyak negara baru yang lahir sebagai akibat dekolonisasi, (2) Kemajuan pesat teknologi dan ilmu pengetahuan, (3) Banyaknya perjanjian internasional yang dibuat baik berupa bilateral, multilateral maupun regional, (4) Bermunculannya organisasi Internasional seperti PBB.” (Boer Mauna, Hukum Internasional, Hlm.7)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juli 2011 in status